<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cas On The Blog &#187; SMP</title>
	<atom:link href="http://casrudi.com/tag/smp/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://casrudi.com</link>
	<description>Karna hidup selalu harus di syukuri...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jul 2010 02:12:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Kurang Dari Sebulan Sepeda Baruku Rontok</title>
		<link>http://casrudi.com/kurang-dari-sebulan-sepeda-baruku-rontok/</link>
		<comments>http://casrudi.com/kurang-dari-sebulan-sepeda-baruku-rontok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Jan 2010 20:56:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>casrudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontes Nulis]]></category>
		<category><![CDATA[Bersepeda]]></category>
		<category><![CDATA[cas]]></category>
		<category><![CDATA[casrudi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita orang bersepeda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita sepeda tua]]></category>
		<category><![CDATA[cerita tantang sepedaku di masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Jalan Kaki]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih Sayang Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Sepeda]]></category>
		<category><![CDATA[Sepeda Tua]]></category>
		<category><![CDATA[SMP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://casrudi.com/?p=4083</guid>
		<description><![CDATA[Sejak saat itu hadir dirumahku sepeda gagah yang ibu belikan untukku. Pulang dan pergi ke sekolah tak lupa aku naiki. Hanya saja, karena teman-temanku masih juga berjalan kaki, ku coba sepedaku dinaiki 4 orang sekaligus. Dan hasilnya amazing, sepedaku rontok dalam rentan waktu kurang dari sebulan. Wakakak…. Maapkan aku Ibu…. Bukan tak menghormati pemberianmu, namun maklumilah kalau aku masih kecil waktu itu, masih terlalu lugu untuk tidak berbuat hal yang konyol. Baiknya teman-temanku bertanggung jawab memperbaikinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Balik ke masa lalu di hampir penghujung tahun 90an, tepatnya tahun 1998. Usiaku masih 15 tahun dan sedang asik-asiknya belajar di bangku SMP.  Sekolahku disana hanya ada di kecamatan, sementara aku tinggal di desa yang cukup terpencil. Setiap hari pergi ke sekolah dengan berjalan kaki kurang lebih 8 km pulang dan pergi. Cukup melelahkan, belum lagi kalau cuaca panas sekali, atau tatkala musim hujan tiba. Saya dan teman-teman terkadang basah kuyup dibuatnya.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Di tahun-tahun itu sudah banyak teman dan anak tetanggaku yang berangkat ke sekolah menaiki sepeda, yang memilik sepeda motorpun sudah ada satu atau dua orang. Hanya aku dan beberapa teman lain yang rajin jogging setiap pagi (baca jalan kaki) menuju ke sekolah. Rata-rata keluarga kami berekonomi biasa saja, terkesan sederhana, dan menumpu-kan kebutuhan keluarga dari sektor pertanian. Sehingga status bersekolah sampai tingkat SMP bisa dikatakan sesuatu yang dianggap hebat. Kami sering diajari bagaimana susahnya mencari uang. Orang tua kami terkadang men-camkan anak-anaknya untuk bersekolah dengan baik, tanpa harus <span id="more-4083"></span>menuntut ini dan itu.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Sebagai anak tentu aku manut dengan nasihat orang tua, walau terkadang muncul keinginan untuk mengajukan sesuatu. Seperti, “Bu, pengen aku dibelikan motor, kan malu temen2 ngeledekin berangkat sekolah jalan kaki”. Dipikir lagi itu tidak baik. Tidak baik menuntut sesuatu pada orang tua, yang belum tentu mampu untuk mengabulkannya.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Namun, yang namanya orang tua terkadang memiliki six sense, indra ke enam untuk memahami hati dan perasaan anaknya. Ibulah yang pertama kali melihat sinyal kalau aku butuh sesuatu untuk mempermudah pergi dan pulang sekolah. Tidak hanya itu, Ibu juga tahu kalau aku sering menghayalkan sepeda baru, seperti milik anak tetangga sebelah. Waktu itu sedang booming sepeda merek federal, sepeda yang terkesan macho dan memang teruntuk laki-laki. Di bawah sadel terbentang pipa besi bulat memanjang sampai ke stang. Kemudian giginya bergergi dan bertingkat-tingkat. Aku sebut itu Sepeda Gigi.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Dan, rupa-rupanya Ibu teramat sayang padaku. Dibelikannya aku sepeda dari hasil menjual emas miliknya. Entah apa yang ada dipikiran ibu, aku tahu ibu hanya memiliki beberapa emas, tidak banyak. Sementara harga sepeda waktu itu sudah terbilang mahal, sekitar 70 ribuan. Tahun &#8217;98 uang 70 ribu mungkin kalau di konversi ke nilai sekarang bisa 400 ribuan, sesuai dengan harga sepeda yang sejenis pada saat ini.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;"><a href="http://casrudi.com/wp-content/uploads/2010/01/sepeda-di-desa.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-4089" title="sepeda di desa" src="http://casrudi.com/wp-content/uploads/2010/01/sepeda-di-desa.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Sejak saat itu hadir dirumahku sepeda gagah yang ibu belikan untukku. Pulang dan pergi ke sekolah tak lupa aku naiki. Hanya saja, karena teman-temanku masih juga berjalan kaki, ku coba sepedaku dinaiki 4 orang sekaligus. Dan hasilnya amazing, sepedaku rontok dalam rentan waktu kurang dari sebulan. Wakakak…. Maapkan aku Ibu…. Bukan tak menghormati pemberianmu, namun maklumilah kalau aku masih kecil waktu itu, masih terlalu lugu untuk tidak berbuat hal yang konyol. Baiknya teman-temanku bertanggung jawab memperbaikinya.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Sekelumit kisah tentang sepeda, entah lucu, entah pahit, entah mengharukan, hanya untuk memeriahkan <a title="Pengalaman mengesankan dalam bersepeda" href="http://isro-m.com/pengalaman-mengesankan-dalam-bersepeda.html" target="_blank">Humberqu punya acara</a>.</p>
<p style="text-align: right; font-family: verdana,Georgia,serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 10pt; line-height: 15pt; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; color: #000000;">Credit foto : <a href="http://www.flickr.com/photos/nicowijayadua/4250641646/" target="_blank">Nicowijayadua</a> @ Flickr.Com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://casrudi.com/kurang-dari-sebulan-sepeda-baruku-rontok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>17 Agustus &#124; Momen 11 Tahun Silam</title>
		<link>http://casrudi.com/17-agustus-momen-11-tahun-silam/</link>
		<comments>http://casrudi.com/17-agustus-momen-11-tahun-silam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 19:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>casrudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus]]></category>
		<category><![CDATA[17 Agustus 1945]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[cas]]></category>
		<category><![CDATA[casrudi]]></category>
		<category><![CDATA[casrudi.com]]></category>
		<category><![CDATA[doel sumbang indungna guru ngaji]]></category>
		<category><![CDATA[doel sumbang kabogoh kuring]]></category>
		<category><![CDATA[doel sumbang kabogoh kuring nu kamari calon sarjana ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Jadi Bangsa Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu dimataku]]></category>
		<category><![CDATA[indungna guru ngaji ngan bapa na nyandu pisan judi]]></category>
		<category><![CDATA[jati diri]]></category>
		<category><![CDATA[Jati diri Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[lagu yang liriknya "indungna guru ngaji"]]></category>
		<category><![CDATA[lirik lagu doel sumbang kabogoh kuring nu kamari calon sarjana ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[lirik lagu indungna guru ngaji ngan bapana]]></category>
		<category><![CDATA[Momen]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila sebagai jati diri]]></category>
		<category><![CDATA[Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[pancasila sebagai jati diri bangsa indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[paskibra]]></category>
		<category><![CDATA[setangkai mawar]]></category>
		<category><![CDATA[SMP]]></category>
		<category><![CDATA[Sosok Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[upacara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://casrudi.com/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[64 tahun adalah rentan waktu yang cukup untuk menunjukan jati diri bangsa. Apa daya, seperti yang kita tahu didalam perjalanannya selama 64 tahun bangsa ini belum benar-benar terbebas dari penjajahan.

Kedepan, semoga sang saka akan benar-benar berkibar di bumi pertiwi ini, selamanya seperti penggalan lagu karya cipta Ibu Sud. Tak goyang jiwaku, menahan rintangan, Tak gentar rakyatmu berkorban, Sang merah putih yang perwira, Berkibarkah Slama-lamanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Percaya atau tidak, saat ini saya sedang tersenyum geli mengingat-ingat <a href="http://casrudi.com/17-agustus-momen-11-tahun-silam" target="_self">momen 11 tahun silam</a>. Ya, saya ingat betul waktu malam 17 Agustus di tahun 1998. Betapa imutnya saya, merasakan debar jantung layaknya debur ombak tatkala menunggu detik-detik pengibaran <a title="Indonesia | Setangkai Mawar Untukmu" href="http://casrudi.com/indonesia-setangkai-mawar-untukmu" target="_blank">bendera merah putih</a>, keesokan harinya tentunya. Kenapa sedemikian bedebar?&#8230; Sejenak saya ingin berkenang-kenang dan turut memeriahkan hari kemerdekaan bangsa Indonesia &#8211; bangsa dimana saya pernah terlahir.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Dalam ingatan yang masih cukup untuk merekam kisah sebelas tahun silam, saya diajak salah satu teman untuk bergabung menjadi anggota pasukan pengibar bendera &#8211; paskibra. Bukan main, pasukan ini disiapkan untuk upacara 17 Agustus yang dilaksanakan di alun-alun kecamatan. <span id="more-1057"></span>Yang memimpinnya adalah Pak Camat langsung. Tentunya ajakan itu cukup membanggakan, mengingat kalau jadi masuk tim maka saya akan menjadi salah satu pusat perhatian dikala upacara berlangsung.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Sekedar info, kecamatan di kampung saya terdiri dari beberapa desa. Pada saat perayaan 17 Agustus misalnya, semua perwakilan desa mulai dari anak-anak SD beserta guru-gurunya, aparatur desa mulai kepala desa sampai penjaga balai desa (patok bale &#8211; tokle), dan masyarakat umum di desa-desa tumpah ruah di alun-alun kecamatan. Semuanya datang dari penjuru kecamatan, utara, selatan, timur, dan tak terkecuali dari barat. Yang hebat, mereka datang dengan kreasinya masing-masing. Ada desa yang menampilkan orkes dangdut di atas mobil bak terbuka. Ada juga yang melakukan iring-iringan kesenian daerah seperti buroh.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Kesenian buroh itu sendiri merupakan iring-iringan boneka raksasa yang dikendalikan dari dalam oleh dua orang manusia. Dari luar nampak perwujudan binatang seperti macan, gajah, banteng, monyet, yang bisa bergerak dinamis seperti meloncat dan berjoget mengikuti irama lagu. Sungguh kreasi seni nan alami, yang saya rasa cukup menghibur masyarakat pedesaan yang memang terasa sekali haus akan hiburan.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Balik lagi ke masalah saya diajak bergabung untuk menjadi anggota paskibra. Dalam hati saya, yang benar saja, saya kan pendek, kalaupun diukur tingginya ga akan sampai 160 cm. Yang saya tahu kala itu seorang paskibra harus memiliki postur yang tingginya diatas rata-rata. Namun pada akhirnya saya bisa bergabung dengan sedikit meninggalkan sesal. Setelah diseleksi saya tidak masuk kedalam tim 8 incaran saya. (Hehe&#8230; tim 8 itu tinggi-tinggi, biasanya mendampingi langsung pengibar benderanya yang cantik itu <img src='http://casrudi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' />  ). Saya hanya kebagian tim 45 yang posisinya pun hampir dibelakang karena yang paling belakang adalah yang paling pendek.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Ya sudahlah nasib diri menjadi manusia berpostur rata-rata cenderung dibawah, akhirnya saya didaulat untuk mengemban tugas, masuk dalam pasukan pengibar bendera.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Kurang lebih tiga minggu semenjak itu saya dan teman-teman digembleng ilmu gerak tubuh rada kaku. Luar biasa, yang mendidik kala itu didatangkan langsung dari satuan polisi resort kabupaten. Roman-romannya penuh disiplin dan tak pernah pandang bulu. Siang seharian dan sore hari terus digenjot dengan gerakan-gerakan, yang sumpah saat itu saya sudah mulai enek. Pengen rasanya bolos latihan. Waktu tiga minggu saya habiskan untuk menyiapkan acara satu hari, hari 17 Agustus.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Tiba saatnya untuk unjuk penampilan dihadapan ribuan pasang mata. Pagi itu saya langsung memposisikan diri di barisan ketiga dari belakang. Muncul kekhawatiran kalau-kalau saya atau teman yang lain lupa akan gerakan yang sudah di instruksikan. Terus terang waktu tiga minggu bukanlah waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal seserius seperti itu. Persiapannyapun terkesan mendadak. Usut punya usut ternyata pasukan pengibar bendera biasanya dilakukan oleh anak-anak SMA. Karena ada alasan tertentu maka pada tahun itu paskibra diserahkan pada sekelompok anak ingusan, anak SMP yang saya sendiri ada didalamnya.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Ditengah-tengah acara saya selalu mencuri-curi pandang. Saya berusaha mencari posisi dimana ibu saya berada. Saya ingin melihatnya berbangga hati. Ingin melihat antusias ibu saya kalau anaknya ada dibarisan sekelompok berseragam putih lengkap dengan atribut dan benderanya. Hem, sayang saya cuma bisa melirik-lirikan bola mata, karena nengok sedikit tentunya akan mengurangi kredibilitas seorang paskibra dan pasukan lainnya. Apa mau dikata, sampai bendera telah berkibar dan acara selesai saya tidak bisa menangkap <a title="Sosok Ibu Dimataku" href="http://casrudi.com/sosok-ibu-dimataku" target="_blank">sosok ibu</a> saya berada. Dalam hati, ditengah kerumunan banyak orang semoga ibu masih bisa melihat dari jauh.</p>
<p><img class="size-full wp-image-1089 alignleft" title="HUT RI ke-64" src="http://casrudi.com/wp-content/uploads/2009/08/HUT-RI-ke-64.png" alt="HUT RI ke-64" width="146" height="161" /></p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Dan hari ini, sebelas tahun telah berlalu. Hari ini bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya. Dari lubuk hati yang paling dalam saya berdoa, merenung, berusaha sekuat tenaga untuk menjiwai apa arti dibalik kemerdekaan ini.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">64 tahun adalah rentan waktu yang cukup untuk menunjukan <a title="Pancasila Sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia?" href="http://casrudi.com/pancasila-sebagai-jati-diri-bangsa-indonesia" target="_blank">jati diri bangsa</a>. Apa daya, seperti yang kita tahu didalam perjalanannya selama 64 tahun bangsa ini belum benar-benar terbebas dari penjajahan.</p>
<p style="text-align: justify; font: 10pt/15pt verdana, Georgia, serif; color: #000000;">Kedepan, semoga sang saka akan benar-benar berkibar di bumi pertiwi ini, selamanya seperti penggalan lagu karya cipta Ibu Sud. Tak goyang jiwaku, menahan rintangan, Tak gentar rakyatmu berkorban, Sang merah putih yang perwira, Berkibarkah Slama-lamanya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://casrudi.com/17-agustus-momen-11-tahun-silam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>93</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
