Percaya atau tidak, saat ini saya sedang tersenyum geli mengingat-ingat momen 11 tahun silam. Ya, saya ingat betul waktu malam 17 Agustus di tahun 1998. Betapa imutnya saya, merasakan debar jantung layaknya debur ombak tatkala menunggu detik-detik pengibaran bendera merah putih, keesokan harinya tentunya. Kenapa sedemikian bedebar?… Sejenak saya ingin berkenang-kenang dan turut memeriahkan hari kemerdekaan bangsa Indonesia – bangsa dimana saya pernah terlahir.
Dalam ingatan yang masih cukup untuk merekam kisah sebelas tahun silam, saya diajak salah satu teman untuk bergabung menjadi anggota pasukan pengibar bendera – paskibra. Bukan main, pasukan ini disiapkan untuk upacara 17 Agustus yang dilaksanakan di alun-alun kecamatan. read more…
Dalam rentan seminggu ini saya banyak mendengar hal-hal yang mengarah pada pembentukan karakter. Ini baik bagi saya yang memang masih membutuhkan prinsip yang ideal untuk berkehidupan dan bersosial
. Salah satunya ketika mendengarkan khotbah jumat di mesjid. Biasanya khotib (pemberi khotbah) menyampaikan materi yang tak jauh dari surga dan neraka atau sodakoh dan amaliah lainnya, kali ini materinya lebih kepada hal duniawi tapi masih berdasar pada Alquran. Khotib menyampaikan apa itu karakter dan kebiasaan, sesuatu hal yang sering kita lupakan, bukan?
Pada awal khotbahnya khotib mereferensikan isi buku dari Steven Covey yang berjudul Seven Habits of Highly Effective People. Isi bukunya bisa disimak disini, saya hanya bisa menyampaikan apa yang saya tangkap dari sang khotib. read more…
Postingan yang menunjuk sisi lain dari facebook. Ternyata fasilitas message atau pesan dalam facebook bisa jadi sarana untuk bernegosiasi seperti yang saya lakukan. Melalui facebook saya bisa bernegosiasi tak ubahnya duduk semeja dengan klien. Dari facebook yang beberapa waktu lalu di plot haram oleh MUI ternyata bisa menghasilkan hal yang bermanfaat.
Ada yang mau gantikan saya ngasih les privat? Terus terang saya sudah capek, kerja dan ngurusin blog chicken ini saja sudah kliyang-kliyeng. Tapi, buat nebelin tabungan sih lumayan yah, saya mau coba jalanin kayak dulu lagi. Door to door dari rumah ke rumah ngajarin les anak. Semangat… Semangat…
***maap, judul ga nyambung…
Terus Wenny itu mantan murid saya waktu di bimbel. Setelah saya resign dan hampir setahun ga berhubungan dengannya termasuk murid-murid yang lain, saya dipertemukan dengan murid-murid dahulu melalui facebook. Aneh, setelah ketemu lagi masih ada yang minta diajarin, tapi kali ini les privat. Boleh lhaaa… Hehehe… Alhamdulillah, adakalanya rejeki itu datang dari arah yang tak pernah diduga.
Banyak orang bilang kalau kekalahan adalah awal dari sebuah kemenangan. Definisi yang menurut saya masih relatif. Artinya bisa iya bisa juga tidak. Betul kalau kekalahan adalah awal sebuah kemenangan jika setelah mengalami kekalahan itu terus berlatih, belajar, mengkaji ulang, dsb yang intinya tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Di kemudian hari peluang untuk menang itu selalu terbuka lebar, bukan?
Namun definisi dari kekalahan adalah awal sebuah kemenangan akan salah apabila setelah mengalami kekalahan itu terus berhenti, putus asa, hilang dari peredaran, menyerah dll, karena kapan menangnya kalau tak ada kelanjutannya.
Beberepa waktu yang lalu saya iseng mengikuti sebuah kontes. Karena namanya juga iseng pasti hasilnya gampang ditebak, yaitu kalah. Hanya saja dari kekalahan ini saya bisa menganalisa penyebabnya, sebagai pengalaman pribadi supaya dikemudian hari apabila mengikuti kontes tidak lagi mengalami kekalahan.
Kira-kira apa ya penyebab kekalahan dalam kontes itu? Mudah-mudahan pembaca turut setuju dengan penyebab-penyebab kekalahan yang saya tuturkan.
Pertama, buta akan kekuatan lawan
Seandainya saya menempatkan diri sebagai seorang petarung di medan perang, jujur saya tidak mengetahui kekuatan lawan (pesaing). Waktu itu saya tidak blogwalking sekedar membaca-baca postingan mengenai kontes ini dari blog lain. Padahal itu akan membantu kita mengetahui aneka ragam postingan. Dari sana kita bisa menganalisanya, memperbaharui, menambahkan ide, bahkan mengeditnya apabila terdapat kesamaan dengan apa yang akan kita posting.
Kedua, terlalu cepat menekan “publish”
Kalau kita lari ke dashboard wordpress, setelah tulisan dianggap selesai maka langkah terakhir adalah menekan publish. Kalau tidak salah untuk postingan itu saya mengetik memakan waktu ± 2 jam. Tanpa proses “pematangan” berupa pematangan konsep, penghapusan kata tak berguna, penambahan data, dll saya langsung tekan publish. Dari yang saya tahu, di dunia penulisan sangatlah dianjurkan untuk mematangkan tulisan sampai benar-benar tulisan itu mengandung makna disetiap kalimatnya. Jadi, tanpa atau dengan sengaja saya telah mengabaikan anjuran ini.
Ketiga, gaya bahasa
Nah, sekalian saya mau survei kecil-kecilan, mengenai gaya bahasa ini apakah blog ini terlalu kaku buat dibaca? Saya sih sudah berusaha untuk menyampaikan seluwes mungkin walaupun saya menerapkan EYD. Namun jika melihat para pemenang kontes, pemenang pertama justru memakai gaya bahasa yang non EYD (hehehe…). Tapi tentunya saya engga ada maksud menggugat, karena itu sudah menjadi hak dewan juri.
Keempat, tidak mengetahui selera Dewan Juri
Ini yang sulit, celakanya nasib menang atau kalah ada ditangan mereka. Kalau saya dewan jurinya mungkin tak akan ragu lagi kalau pemenangnya adalah saya, hehehe. Namun selera juri ternyata berbeda dan saya engga tahu walaupun kriterianya sangat jelas sudah dibeberkan sejak awal lomba. Yang pasti kenapa saya tidak menang lebih dikarenakan banyak kekurangan disana-sini. Tidak hanya 4 alasan tapi banyaaaaaak… Artinya saya harus banyak belajar lagi.
Nilai moral : Pepatah mengatakan bangun dan tidur adalah pilihan, maju atau mundur juga pilihan, gagal dan sukses pun sama pilihan, surga dan neraka juga masih tetap pilihan. Sekarang boleh kalah, tak ada salahnya jika kedepan berusaha menjadi pemenang. Karena pada dasarnya menang dan kalah adalah sebuah pilihan.


