Quantcast
Friday, March 12, 2010

Site Search

Kurang Dari Sebulan Sepeda Baruku Rontok

Balik ke masa lalu di hampir penghujung tahun 90an, tepatnya tahun 1998. Usiaku masih 15 tahun dan sedang asik-asiknya belajar di bangku SMP.  Sekolahku disana hanya ada di kecamatan, sementara aku tinggal di desa yang cukup terpencil. Setiap hari pergi ke sekolah dengan berjalan kaki kurang lebih 8 km pulang dan pergi. Cukup melelahkan, belum lagi kalau cuaca panas sekali, atau tatkala musim hujan tiba. Saya dan teman-teman terkadang basah kuyup dibuatnya.

Di tahun-tahun itu sudah banyak teman dan anak tetanggaku yang berangkat ke sekolah menaiki sepeda, yang memilik sepeda motorpun sudah ada satu atau dua orang. Hanya aku dan beberapa teman lain yang rajin jogging setiap pagi (baca jalan kaki) menuju ke sekolah. Rata-rata keluarga kami berekonomi biasa saja, terkesan sederhana, dan menumpu-kan kebutuhan keluarga dari sektor pertanian. Sehingga status bersekolah sampai tingkat SMP bisa dikatakan sesuatu yang dianggap hebat. Kami sering diajari bagaimana susahnya mencari uang. Orang tua kami terkadang men-camkan anak-anaknya untuk bersekolah dengan baik, tanpa harus menuntut ini dan itu.

Sebagai anak tentu aku manut dengan nasihat orang tua, walau terkadang muncul keinginan untuk mengajukan sesuatu. Seperti, “Bu, pengen aku dibelikan motor, kan malu temen2 ngeledekin berangkat sekolah jalan kaki”. Dipikir lagi itu tidak baik. Tidak baik menuntut sesuatu pada orang tua, yang belum tentu mampu untuk mengabulkannya.

Namun, yang namanya orang tua terkadang memiliki six sense, indra ke enam untuk memahami hati dan perasaan anaknya. Ibulah yang pertama kali melihat sinyal kalau aku butuh sesuatu untuk mempermudah pergi dan pulang sekolah. Tidak hanya itu, Ibu juga tahu kalau aku sering menghayalkan sepeda baru, seperti milik anak tetangga sebelah. Waktu itu sedang booming sepeda merek federal, sepeda yang terkesan macho dan memang teruntuk laki-laki. Di bawah sadel terbentang pipa besi bulat memanjang sampai ke stang. Kemudian giginya bergergi dan bertingkat-tingkat. Aku sebut itu Sepeda Gigi.

Dan, rupa-rupanya Ibu teramat sayang padaku. Dibelikannya aku sepeda dari hasil menjual emas miliknya. Entah apa yang ada dipikiran ibu, aku tahu ibu hanya memiliki beberapa emas, tidak banyak. Sementara harga sepeda waktu itu sudah terbilang mahal, sekitar 70 ribuan. Tahun ‘98 uang 70 ribu mungkin kalau di konversi ke nilai sekarang bisa 400 ribuan, sesuai dengan harga sepeda yang sejenis pada saat ini.

Sejak saat itu hadir dirumahku sepeda gagah yang ibu belikan untukku. Pulang dan pergi ke sekolah tak lupa aku naiki. Hanya saja, karena teman-temanku masih juga berjalan kaki, ku coba sepedaku dinaiki 4 orang sekaligus. Dan hasilnya amazing, sepedaku rontok dalam rentan waktu kurang dari sebulan. Wakakak…. Maapkan aku Ibu…. Bukan tak menghormati pemberianmu, namun maklumilah kalau aku masih kecil waktu itu, masih terlalu lugu untuk tidak berbuat hal yang konyol. Baiknya teman-temanku bertanggung jawab memperbaikinya.

Sekelumit kisah tentang sepeda, entah lucu, entah pahit, entah mengharukan, hanya untuk memeriahkan Humberqu punya acara.

Credit foto : Nicowijayadua @ Flickr.Com

Bagikan artikel ini :
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Yahoo! Bookmarks
  • LinkedIn
  • MySpace
  • PDF
  • Reddit
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Add to favorites
  • Live
  • RSS
  • Scoopeo

Tulisan Terkini :


Comments
1 2
Leave a Comment

Threaded commenting powered by Spectacu.la code.