Quantcast
Friday, March 12, 2010

Site Search

Archive for November, 2009

Bihun Cinta Ala Kadarnya

Adakalanya ketika hidup dirantau orang, walau tersebar banyak makanan, tetep perasaan rindu masakan dirumah sendiri selalu membayangi. Tak cukup membayangkan betapa gurihnya masakan sang Bunda tercinta dirumah.

Menanggapi tantangan Pak De Cholik di Surabaya,

SupermanShow : La Tetates de Timbele

Saya coba peragakan salah satu masakan yang sering dimasak oleh Ibu dirumah. Sedihnya disini tak ada alat masak yang memadai. Kalaupun ada cuma kompor gas yang baru dibeli beberapa waktu lalu berkat ngemis2 minta sama Bos besar. :)

Nama masakannya Bihun Cinta Ala Kadarnya. Berbahan utama bihun, telur, tahu, sayuran, dan bihun. Walaupun ala kadarnya tapi yakinlah kalau yang saya masak ini dibuat dengan penuh rasa cinta. :lol: Baca lebih lanjut : Bihun Cinta Ala Kadarnya

Blogger Award Community

Blogger Award Comunity

Blogger Award Comunity

Pemberian dari Blog Muria atau yang jika berkomentar biasa meninggalkan jejak dengan nama Cah Ndeso. Juga saya dapatkan dari blognya Mas Tomi Purba. Terima kasih ya Mas Cah Ndeso sama Mas Tomi. Maap sekali awardnya baru saya posting mengingat dalam seminggu ini banyak sekali pekerjaan lapangan yang harus saya selesaikan (curhatdotinfo).

Belum lagi menghadiri dan membantu pembukaan LEYSBOOK miliknya Kang Yayat Arkasala, waduh lumayan campur aduk minggu ini. Tapi alhamdulillah bawaan hati tetep seneng.

Apalagi dapat kabar dari orang dirumah kalau buku Kholifah Bumi kiriman paket kilat dari Kang Boed di Bandung sudah sampai. Baca lebih lanjut : Blogger Award Community

Buatku Punya Rumah Adalah Prioritas Utama

Home Sweet HomeKetika kita berbicara tentang impian dan harapan kedepan, tentu dari sekian banyak impian-impian itu kita bisa menentukan impian mana yang harus terlebih dahulu direalisasikan. Salah satu yang jadi prioritas utama adalah memiliki rumah sendiri.

Buatku, atau buat saya, atau lebih tepatnya buat saya dan tunangan, sering dalam obrolan berandai-andai jika kelak sesudah menikah memiliki rumah dikawasan hunian daerah Depok, secara rumah calon mertua (Insha Alloh kalau berjodoh) ada di Depok dan terasa sekali nyamannya tinggal disana.

Untuk merealisasikan hal itu alhamdulillah dari sekarang sudah menabung walau sedikit-sedikit. Tinggal bagaimana nanti ketika uang sudah terkumpul, kalaupun belum terkumpul saya dan tunangan sudah sepakat untuk tinggal sementara di rumah sewa.

Syukur-syukur kalau uang yang terkumpul itu sudah banyaaak, pasti tak perlu pikir panjang lagi, langsung nyari listing rumah dijual atau kalau mau berkreasi sendiri membangun rumah dari nol bisa mencari lahannya dari sekarang. Biasanya yang jadi bidikan adalah lahan kosong yang masih didalam komplek perumahan, atau sebidang tanah hasil pembabatan/pembebasan lahan yang sebelumnya dipakai secara tak legal.

Dalam hemat saya banyak sekali orang yang berniat jual tanah. Sebab banyak pemilik lahan sengaja menjual tanahnya untuk mengikuti arus kebutuhan akan rumah tinggal dan bangunan perkantoran yang kian hari kian meningkat. Jadi tak perlu lagi khawatir kehabisan lahan kosong di tempat yang strategis dan nyaman.

Your Partner in Property

Selain itu dari pihak penjual tanah mungkin terbentur kebutuhan lain yang mendesak. Tahulah kita, kalau orang sudah menjual secara mendesak maka keuntungan akan diperoleh pembeli karena bisa menawar dengan harga dibawah rata-rata. Tapi ada juga yang berniat menjual tanah dikarenakan seluruh asetnya akan ditinggalkan, misalnya ada rencana pindah ke kota lain atau ke luar negeri.

Untuk memuluskan rencana memiliki rumah, tak ada salahnya dari sekarang hunting lahan kosong yang akan dijual oleh pemiliknya, atau jika keuangan belum mencukupi maka alternatifnya mencari rumah sewa yang betul2 nyaman untuk ditempati. Kenapa tidak, ya engga?… :)

Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pepatah atau peribahasa ini kurang lebih menggambarkan kalau suatu adat istiadat di suatu daerah belum tentu sama dengan daerah yang lainnya. Setiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda, tata kota yang berbeda, aturan yang berbeda, bahkan konon katanya selera yang di cap lidahpun akan berbeda.

Untuk saya yang pertama kali menginjakan kaki di kota Batam dan tinggal untuk beberapa saat tentu pada awalnya akan merekam segala bentuk perbedaan, terutama adat istiadat didaerah setempat. Saya sedikit kurang beruntung karena dapat penempatan di Batam kotanya, andai saja sedikit ke kelurahan atau pedesaannya mungkin akan mengenal lebih dekat budaya asli masyarakat disini.

Aneh juga rasanya, selama ini tinggal di Jakarta yang semua pada tahu, kota yang terkenal dengan biang macet disetiap sudutnya. Berbeda sekali dengan Batam yang jauh dari istilah macet. Kalaupun kejadian macet alias kepadatan kendaraan dijalan, saya kira hal itu akan terjadi dibeberapa tahun kedepan. Kenapa tak terjadi kemacetan? Pertama karena Baca lebih lanjut : Lain Ladang Lain Belalang, Lain Lubuk Lain Ikannya